FAKTOR PEMBATAS BAHAN PAKAN (ANTI NUTRISI)

(ILMU TERNAK - www.ilmuternakkita.blogspot.com)*

Tingkat kecernaan, konsumsi dan efisiensi penggunaan nutrisi bahan pakan asal limbah atau hasil sisa tanaman dipengaruhi oleh tingkat kandungan berbagai senyawa kimiawi yang bersifat penghambat (inhibitor). Pada bahan pakan asal tanaman pangan (Tabel 3)`faktor penghambat didominasi oleh kelompok senyawa fenolik polimer seprti lignin yang terdapat di dalam dinding sel. Dinding sel merupakan fraksi jaringan terbesar yaitu berkisar antara 69% pada jerami kacang tanah (TANGENJAYA dan GUNAWAN, 1988) dan 82% pada jerami sorghum (SIRAPPA, 2003). Pada jaringan dinding sel tanaman senyawa lignin membentuk ikatan dengan karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa) menjadi senyawa komplek yang tidak mudah dicerna. Senyawa lain yang menjadi penghambat adalah kutin, karena mempersulit penetrasi dan kolonisasi oleh mikrobia rumen yang berakibat pada semakin lambatnya proses fermentasi (VAN SOEST, 1982). Pada fraksi daun ubu kayu, kandungan sianida dapat mencapai 175 ppm (DEVENDRA, 1992), namun sangat dipengaruhi oleh varietas. Kebanyakan senyawa sianida (90%) terdapat dalam bentuk terikat sebagai sianida glukosida (linamarin), sedangkan sisanya sebagai asam sianida bebas. Namun kadar asam sianida dapat diturunkan secara drastis (60-90%) dengan pengeringan sinar matahari, tergantung lama pengeringan (GOMEZ et al., 1984).


Pada batang dan daun pisang kandungan lignin mencapai 12% (ROXAS et al., 1996; QUIROS et al., 1996). Rendahnya kecernaan bahan kering tanaman pisang (42%) kemungkinan terkait dengan kadar lignin dan tannin. Ampas nenas mengandung komponen didnding sel yang relatif tinggi (58%). Walaupun kandungan dinding sel relatif lebih rendah dibandingkan jerami tanaman pangan, namun merupakan faktor pembatas penting bagi proses pencernaan. Faktor anti nutrisi utama pada bahan asal perkebunan kelapa sawit, terutama hasil samping tanaman (daun, pelepah dan serat perasan buah) adalah lignin dan kutin. Bungkil inti sawit, hasil samping industri pengolahan minyak sawit diketahui mengandung koper (Cu) yang relatif tinggi yaitu berkisar antara 11 – 55 µg/g bahan kering bahan (ABDUL RAHMAN dkk., 1989; JALALUDIN dkk., 1991). Namun, sifat toksiknya baru muncul bila mengkonsunsi dalam jumlah yang secara normal tidak terjadi di lapangan (HAIR-BEJO dan ALIMON, 1995).

Pada kakao senyawa theobromine (3,7- dimethylxanthine) telah diketahui menjadi faktor anti nutrisi yang penting. Kandungan theobromine pada kulit buah kakao diperkirakan sebesar 1,0% ( MAHYUDDIN and BAKRIE, 1993). Pada limbah tepung buah kopi (pulp) tannin dan kafein merupakan senyawa anti nutrisi penting. Kandungan tannin dilaporkan mencapai 0,46% (DONKOH et al., 1988), disamping mengandung kafein (1,3,7-trimethylxanthine) yang bersifat diuretik (MOLINA et al., 1974). Pemberian 40 dan 60% tepung ampas kopi meningkatkan sekresi urin yang mendorong sekresi N dan berakibiat penurunan performans. Pada ampas teh kandungan kafein dan theobromin relatif lebih tinggi yaitu berturut-turut berkisar antara 2,5 - 5,5% dan 0,07 - 0,17% (BELITZ dan GROSCH, 1986), sedangkan kandungan tannin mencapai 1,35% (ISTIRAHAYU, 1993). Faktor anti nutrisi pada biji karet adalah senyawa asam sianida. Konsentrasi asam sianida didalam biji karet dapat mencapai 540 ppm (POND dkk., 1994), jauh melebihi kandungan pada daun ubi kayu. Perlakuan perendaman dalam air mendidih dapat menurunkan kandungan sianida secara nyata.

Sumber : Lokakarya Nasional Kambing Potong



0 Responses

(ILMU TERNAK - www.ilmuternakkita.blogspot.com)*

Tingkat kecernaan, konsumsi dan efisiensi penggunaan nutrisi bahan pakan asal limbah atau hasil sisa tanaman dipengaruhi oleh tingkat kandungan berbagai senyawa kimiawi yang bersifat penghambat (inhibitor). Pada bahan pakan asal tanaman pangan (Tabel 3)`faktor penghambat didominasi oleh kelompok senyawa fenolik polimer seprti lignin yang terdapat di dalam dinding sel. Dinding sel merupakan fraksi jaringan terbesar yaitu berkisar antara 69% pada jerami kacang tanah (TANGENJAYA dan GUNAWAN, 1988) dan 82% pada jerami sorghum (SIRAPPA, 2003). Pada jaringan dinding sel tanaman senyawa lignin membentuk ikatan dengan karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa) menjadi senyawa komplek yang tidak mudah dicerna. Senyawa lain yang menjadi penghambat adalah kutin, karena mempersulit penetrasi dan kolonisasi oleh mikrobia rumen yang berakibat pada semakin lambatnya proses fermentasi (VAN SOEST, 1982). Pada fraksi daun ubu kayu, kandungan sianida dapat mencapai 175 ppm (DEVENDRA, 1992), namun sangat dipengaruhi oleh varietas. Kebanyakan senyawa sianida (90%) terdapat dalam bentuk terikat sebagai sianida glukosida (linamarin), sedangkan sisanya sebagai asam sianida bebas. Namun kadar asam sianida dapat diturunkan secara drastis (60-90%) dengan pengeringan sinar matahari, tergantung lama pengeringan (GOMEZ et al., 1984).



Pada batang dan daun pisang kandungan lignin mencapai 12% (ROXAS et al., 1996; QUIROS et al., 1996). Rendahnya kecernaan bahan kering tanaman pisang (42%) kemungkinan terkait dengan kadar lignin dan tannin. Ampas nenas mengandung komponen didnding sel yang relatif tinggi (58%). Walaupun kandungan dinding sel relatif lebih rendah dibandingkan jerami tanaman pangan, namun merupakan faktor pembatas penting bagi proses pencernaan. Faktor anti nutrisi utama pada bahan asal perkebunan kelapa sawit, terutama hasil samping tanaman (daun, pelepah dan serat perasan buah) adalah lignin dan kutin. Bungkil inti sawit, hasil samping industri pengolahan minyak sawit diketahui mengandung koper (Cu) yang relatif tinggi yaitu berkisar antara 11 – 55 µg/g bahan kering bahan (ABDUL RAHMAN dkk., 1989; JALALUDIN dkk., 1991). Namun, sifat toksiknya baru muncul bila mengkonsunsi dalam jumlah yang secara normal tidak terjadi di lapangan (HAIR-BEJO dan ALIMON, 1995).

Pada kakao senyawa theobromine (3,7- dimethylxanthine) telah diketahui menjadi faktor anti nutrisi yang penting. Kandungan theobromine pada kulit buah kakao diperkirakan sebesar 1,0% ( MAHYUDDIN and BAKRIE, 1993). Pada limbah tepung buah kopi (pulp) tannin dan kafein merupakan senyawa anti nutrisi penting. Kandungan tannin dilaporkan mencapai 0,46% (DONKOH et al., 1988), disamping mengandung kafein (1,3,7-trimethylxanthine) yang bersifat diuretik (MOLINA et al., 1974). Pemberian 40 dan 60% tepung ampas kopi meningkatkan sekresi urin yang mendorong sekresi N dan berakibiat penurunan performans. Pada ampas teh kandungan kafein dan theobromin relatif lebih tinggi yaitu berturut-turut berkisar antara 2,5 - 5,5% dan 0,07 - 0,17% (BELITZ dan GROSCH, 1986), sedangkan kandungan tannin mencapai 1,35% (ISTIRAHAYU, 1993). Faktor anti nutrisi pada biji karet adalah senyawa asam sianida. Konsentrasi asam sianida didalam biji karet dapat mencapai 540 ppm (POND dkk., 1994), jauh melebihi kandungan pada daun ubi kayu. Perlakuan perendaman dalam air mendidih dapat menurunkan kandungan sianida secara nyata.

Sumber : Lokakarya Nasional Kambing Potong



Usaha sampingan inspiratif

Ada kesalahan di dalam gadget ini