Molasses

Molasses adalah hasil ikutan utama dalam pengolahan gula, yang berasal dari cairan tebu. Sekitar 25 hingga 50 kg molases dihasilkan dari produksi 100 Kg gula refinasi. Molases juga dihasilkan dari gula bit dan produk lainnya seperti yang ditampilkan pada tabel berikut:

Kandungan

Sumber Molasses

Tebu

Gula bit

Citrus

Jagung

Sorghum

Proses Penyulingan

Total bahan %

75

76

65

73

73

73

Protein Kasar %

3,0

6,0

7,0

0,5

0,3

3,0

Abu %

8,1

9,0

6,0

8,0

4,0

8,2

Total Gula %

48-54

48-52

41-43

50

50

48-50

TDN %

72

61

54

63

63

72

Beberapa macam molases antara lain ;

a. Molases tebu atau (blackstrap molasses).

Molases ini diperoleh dari pabrik pembutan gula yang berasal dari tebu. Molases ini berasal dari sisa cairan tebu yang telah diolah sesuai standar prosedur yang diinginkan dalam pembuatan gula. Sisa cairan dalam pembuatan gula yang tidak memenuhi kriteria dapat dimanfaatkan sebagai molases.

b. Molases gula bit (Beet Molasses)

Molases ini berasal dari hasil by-produk pabrik pembuatan gula bit.

c. Citrus Molases.

Citrus Molases dihasilkan dari limbah juice buah citrus. Pada saat tertentu produksi buah citrus mencapai jumlah yang besar utnuk dijadikan molases.

d. Wood Molases

Pada pabrik pembuatan kertas, papan serat dan selulosa murni dari kayu. Pabrik tersebut menghasilkan ekstrak yang mengandung mineral dan karbohidrat larut yang berasal dari kayu yang diolah.

Molases merupakan sumber energi utama dan merupakan hasil ikutan utama dalam pengolahan gula. Molases dari tebu mengandung 25 hingga 40% sukrosa, kandungan protein kasar relatif kecil yaitu sekitar 3% dan kandungan abu berkisar antara 8-10% yang terdiri dari K, Ca, CL dan Garam Sulfat. Molases merupakan sumber trace mineral yang bagus akan tetapi pada umumnya memiliki kandungan vitamin yang rendah. Pada penggunaan secara komersial molases yang digunakan memiliki kandungan air sekitar 25%, sehingga perlu pengeringan atau teknik pencampuran tersendiri bila ingin dicampurkan pada pakan kering agar tidak menggumpal.

Derajad Brix (Molassses Brix) adalah istilah yang sekarang ini digunakan untuk menunjukkan komposisi molases. Brix menggambarkan derajad yang digunakan untuk mengindikasikan persentase bobot gula dalam larutan sukrosa. Salah satu cara untuk mengukur derajad Brix pada larutan sukrosa adalah mengukur spesifik gravitasi dan kemudian dikonversikan dengan tabel yang memperlihatkan derajad Brix dari hasil level sukrosa yang dihasilkan.

Pemasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan molases adalah kandungan molases yang sangat bervariasi (kecuali molases dari jagung). Jenis tebu, umur dan kualitas tebu, kesuburan tanah, cara pemanenan dan proses pengolahan sangat berpengaruh terhadap kandungan molases. Seperti halnya pada 11 sampel ditemukan kisaran kandungan Ca antara 0,3-1,68% (Pond and Maner, 1984). Molases digunakan sebagai pakan ternak ruminansia secara luas. Di amerika sendiri menggunkan sekitar 2,5 juta ton molases lebih besar dibandingkan di negara atau daerah lainnya di eropa. Rasa yang manis menyebabkan banyak jenis ternak yang menyukainya. Penambahan molases dapat mengurangi pakan yang berdebu, dan berguna sebagai binder (pengikat) pada pembuatan pakan pellet.

Secara umum terdapat 4 jenis molases yaitu :

1. Cane (tebu) atau blackstrap molasses

Produk ini merupakan by-product pabrik gula (tebu). Cane-molasses mengandung 25-40 % sukrosa dan 12-25 % gula pereduksi dengan total kadar gula 50-60 % atau lebih. Kadar protein kasar normalnya sekitar 3 %, kadar abu berkisar dari 8 sampai 10 %, terutama terbentuk dari Potassium, K, Ca, Mg, Fe, Cl, dan garam sulfat.

Ada 3 grade molasses, yaitu Mild atau first molasses, Dark atau second molasses, and Blackstrap. Ketiganya terkadang diberi sulfur maupun tidak. Molasses dibuat pertama kali dengan memanen dan membuang daunnya kemudian diekstraksi dengan cara crushing or mashing. Jus hasil ekstraksi kemudian direbus dibuat kental yang selanjutnya dikristalisasi menjadi gula. Hasil dari perebusan pertama dan yang telah dipisahkan gula kristalnya disebut first molassses yang mengandung gula paling tinggi. Second molasses dibuat dari perebusan kedua dan ekstraksi gula serta berasa agak pahit. Perebusan ketiga dinamakan blackstrap molasses, masih mengandung banyak kalori. Tidak seperti gula rafinasi, blackstrap molasses mengandung sejumlah vitamin dan mineral.





2. Beet molasses

Produk ini merupakan by-product pabrik beet sugar dari sugar beet. Banyak diproduksi di Amerika bagian barat. Beet molasses merupakan pakan pencahar yang normalnya diberikan pada ternak dalam jumlah kecil. Molasses yang berasal dari sugar beet berbeda dengan yang berasal dari cane molasses. Beet molasses mengandung 50% gula (dalam BK), lebih banyak mengandung sukrosa, glukosa. Sedikit mengandung biotin (Vitamin H or B7) untuk pertumbuhan sel, oleh karena itu perlu suplementasi sumber biotin. Biasanya kurang palatable dan hanya digunakan sebagai aditif dalam pakan (disebut "molassed sugar beet feed") atau sebagai fermentasi pakan. Proses mengeksrak tambahan gula dari beet molasses yang disebut molasses desugarisation. Teknik ini menggunakan skala chromatography untuk memisahkan sukrosa dari komponen non-gula.

3. Citrus molasses

Citrus molasses merupakan jus dari limbah jeruk (the juice of citrus waste).

4. Wood molasses

Wood molasses merupakan ekstrak yang mengandung lebih karbohidrat terlarut dan mineral yang dihasilkan dari bahan kayu pada pabrik kertas, fiber board, selulosa murni dari kayu. Ekstrak ini diproses menjadi molasses yang sesuai untuk diberikan sebagai pakan ternak.

Molasses biasanya digunakan dalam pakan untuk sapi, domba dan kuda; terkadang juga pada unggas. Tujuannya dalah untuk meningkatkan palatabilitas ransum, meningkatkan aktivitas mikroba rumen, mengurangi ramsum berdebu (dustiness), sebagai perekat dalam pembuatan pellet, sebagai sumber energi dan sebagai sumber faktor-faktor yang tak teridentifikasi (unidentified factors). Menurut Cullison (1979), molasses biasanya digunakan sebanyak 0-15% dalam ransum. Pemberiam lebih dari 15% menyebabkan ransum menjadi lengket (sticky) dan sulit untuk ditangani. Pemberian dalam level yang tinggi cenderung mengganggu aktivitas mikroba rumen.

Pemberian molasses dapat menyebabkan keracunan (molasses toxicity). Gejalanya adalah inkoordinasi dan kebutaan yang disebabkan oleh deteorisasi otak yang serupa dengan nekrosi serebrokortikal. Keracunan ini kemungkinan disebabkan oleh defisiensi thiamin, berkurangnya suplai glukosa ke dalam otak, rumen statis, atau akibat jalur pendek glukosa yang disebabkan oleh produksi yang jelek dalam rumen. Kondisi tersebut dapat dicegah dengan memberikan hijauan berkualitas baik pada ternak.

*Review by Edi Prayitno, S.Pt

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT Gramedia, Jakarta.

Bambang Agus Murtidjo. 1993. Memelihara Domba. Penerbit Kanisius, Yogyakarta

Cullison, A.E. 1979. Feed and Feeding. Publishing Company, INC. USA

Kartadisastra, H. R. 1994. Pengolahan Pakan Ayam. Kanisius, Jakarta

Murtidjo. 1995. Kamus Istilah Peternakan. Kanisius. Yogyakarta

Tillman Alen D, Hartadi Hari, Reksohadiprodjo Soedomo, Prawirokusumo Soeharto dan Lebdosoekojo Soekanto, 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

W.G. Pond, D. C. Churrch, K. R. Pond. 1995. Basic animal nutrition and feeding. Publshed by John Wiley and Sons, Inc, Canada.

0 Responses

Molasses adalah hasil ikutan utama dalam pengolahan gula, yang berasal dari cairan tebu. Sekitar 25 hingga 50 kg molases dihasilkan dari produksi 100 Kg gula refinasi. Molases juga dihasilkan dari gula bit dan produk lainnya seperti yang ditampilkan pada tabel berikut:

Kandungan

Sumber Molasses

Tebu

Gula bit

Citrus

Jagung

Sorghum

Proses Penyulingan

Total bahan %

75

76

65

73

73

73

Protein Kasar %

3,0

6,0

7,0

0,5

0,3

3,0

Abu %

8,1

9,0

6,0

8,0

4,0

8,2

Total Gula %

48-54

48-52

41-43

50

50

48-50

TDN %

72

61

54

63

63

72

Beberapa macam molases antara lain ;

a. Molases tebu atau (blackstrap molasses).

Molases ini diperoleh dari pabrik pembutan gula yang berasal dari tebu. Molases ini berasal dari sisa cairan tebu yang telah diolah sesuai standar prosedur yang diinginkan dalam pembuatan gula. Sisa cairan dalam pembuatan gula yang tidak memenuhi kriteria dapat dimanfaatkan sebagai molases.

b. Molases gula bit (Beet Molasses)

Molases ini berasal dari hasil by-produk pabrik pembuatan gula bit.

c. Citrus Molases.

Citrus Molases dihasilkan dari limbah juice buah citrus. Pada saat tertentu produksi buah citrus mencapai jumlah yang besar utnuk dijadikan molases.

d. Wood Molases

Pada pabrik pembuatan kertas, papan serat dan selulosa murni dari kayu. Pabrik tersebut menghasilkan ekstrak yang mengandung mineral dan karbohidrat larut yang berasal dari kayu yang diolah.

Molases merupakan sumber energi utama dan merupakan hasil ikutan utama dalam pengolahan gula. Molases dari tebu mengandung 25 hingga 40% sukrosa, kandungan protein kasar relatif kecil yaitu sekitar 3% dan kandungan abu berkisar antara 8-10% yang terdiri dari K, Ca, CL dan Garam Sulfat. Molases merupakan sumber trace mineral yang bagus akan tetapi pada umumnya memiliki kandungan vitamin yang rendah. Pada penggunaan secara komersial molases yang digunakan memiliki kandungan air sekitar 25%, sehingga perlu pengeringan atau teknik pencampuran tersendiri bila ingin dicampurkan pada pakan kering agar tidak menggumpal.

Derajad Brix (Molassses Brix) adalah istilah yang sekarang ini digunakan untuk menunjukkan komposisi molases. Brix menggambarkan derajad yang digunakan untuk mengindikasikan persentase bobot gula dalam larutan sukrosa. Salah satu cara untuk mengukur derajad Brix pada larutan sukrosa adalah mengukur spesifik gravitasi dan kemudian dikonversikan dengan tabel yang memperlihatkan derajad Brix dari hasil level sukrosa yang dihasilkan.

Pemasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan molases adalah kandungan molases yang sangat bervariasi (kecuali molases dari jagung). Jenis tebu, umur dan kualitas tebu, kesuburan tanah, cara pemanenan dan proses pengolahan sangat berpengaruh terhadap kandungan molases. Seperti halnya pada 11 sampel ditemukan kisaran kandungan Ca antara 0,3-1,68% (Pond and Maner, 1984). Molases digunakan sebagai pakan ternak ruminansia secara luas. Di amerika sendiri menggunkan sekitar 2,5 juta ton molases lebih besar dibandingkan di negara atau daerah lainnya di eropa. Rasa yang manis menyebabkan banyak jenis ternak yang menyukainya. Penambahan molases dapat mengurangi pakan yang berdebu, dan berguna sebagai binder (pengikat) pada pembuatan pakan pellet.

Secara umum terdapat 4 jenis molases yaitu :

1. Cane (tebu) atau blackstrap molasses

Produk ini merupakan by-product pabrik gula (tebu). Cane-molasses mengandung 25-40 % sukrosa dan 12-25 % gula pereduksi dengan total kadar gula 50-60 % atau lebih. Kadar protein kasar normalnya sekitar 3 %, kadar abu berkisar dari 8 sampai 10 %, terutama terbentuk dari Potassium, K, Ca, Mg, Fe, Cl, dan garam sulfat.

Ada 3 grade molasses, yaitu Mild atau first molasses, Dark atau second molasses, and Blackstrap. Ketiganya terkadang diberi sulfur maupun tidak. Molasses dibuat pertama kali dengan memanen dan membuang daunnya kemudian diekstraksi dengan cara crushing or mashing. Jus hasil ekstraksi kemudian direbus dibuat kental yang selanjutnya dikristalisasi menjadi gula. Hasil dari perebusan pertama dan yang telah dipisahkan gula kristalnya disebut first molassses yang mengandung gula paling tinggi. Second molasses dibuat dari perebusan kedua dan ekstraksi gula serta berasa agak pahit. Perebusan ketiga dinamakan blackstrap molasses, masih mengandung banyak kalori. Tidak seperti gula rafinasi, blackstrap molasses mengandung sejumlah vitamin dan mineral.





2. Beet molasses

Produk ini merupakan by-product pabrik beet sugar dari sugar beet. Banyak diproduksi di Amerika bagian barat. Beet molasses merupakan pakan pencahar yang normalnya diberikan pada ternak dalam jumlah kecil. Molasses yang berasal dari sugar beet berbeda dengan yang berasal dari cane molasses. Beet molasses mengandung 50% gula (dalam BK), lebih banyak mengandung sukrosa, glukosa. Sedikit mengandung biotin (Vitamin H or B7) untuk pertumbuhan sel, oleh karena itu perlu suplementasi sumber biotin. Biasanya kurang palatable dan hanya digunakan sebagai aditif dalam pakan (disebut "molassed sugar beet feed") atau sebagai fermentasi pakan. Proses mengeksrak tambahan gula dari beet molasses yang disebut molasses desugarisation. Teknik ini menggunakan skala chromatography untuk memisahkan sukrosa dari komponen non-gula.

3. Citrus molasses

Citrus molasses merupakan jus dari limbah jeruk (the juice of citrus waste).

4. Wood molasses

Wood molasses merupakan ekstrak yang mengandung lebih karbohidrat terlarut dan mineral yang dihasilkan dari bahan kayu pada pabrik kertas, fiber board, selulosa murni dari kayu. Ekstrak ini diproses menjadi molasses yang sesuai untuk diberikan sebagai pakan ternak.

Molasses biasanya digunakan dalam pakan untuk sapi, domba dan kuda; terkadang juga pada unggas. Tujuannya dalah untuk meningkatkan palatabilitas ransum, meningkatkan aktivitas mikroba rumen, mengurangi ramsum berdebu (dustiness), sebagai perekat dalam pembuatan pellet, sebagai sumber energi dan sebagai sumber faktor-faktor yang tak teridentifikasi (unidentified factors). Menurut Cullison (1979), molasses biasanya digunakan sebanyak 0-15% dalam ransum. Pemberiam lebih dari 15% menyebabkan ransum menjadi lengket (sticky) dan sulit untuk ditangani. Pemberian dalam level yang tinggi cenderung mengganggu aktivitas mikroba rumen.

Pemberian molasses dapat menyebabkan keracunan (molasses toxicity). Gejalanya adalah inkoordinasi dan kebutaan yang disebabkan oleh deteorisasi otak yang serupa dengan nekrosi serebrokortikal. Keracunan ini kemungkinan disebabkan oleh defisiensi thiamin, berkurangnya suplai glukosa ke dalam otak, rumen statis, atau akibat jalur pendek glukosa yang disebabkan oleh produksi yang jelek dalam rumen. Kondisi tersebut dapat dicegah dengan memberikan hijauan berkualitas baik pada ternak.

*Review by Edi Prayitno, S.Pt

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT Gramedia, Jakarta.

Bambang Agus Murtidjo. 1993. Memelihara Domba. Penerbit Kanisius, Yogyakarta

Cullison, A.E. 1979. Feed and Feeding. Publishing Company, INC. USA

Kartadisastra, H. R. 1994. Pengolahan Pakan Ayam. Kanisius, Jakarta

Murtidjo. 1995. Kamus Istilah Peternakan. Kanisius. Yogyakarta

Tillman Alen D, Hartadi Hari, Reksohadiprodjo Soedomo, Prawirokusumo Soeharto dan Lebdosoekojo Soekanto, 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

W.G. Pond, D. C. Churrch, K. R. Pond. 1995. Basic animal nutrition and feeding. Publshed by John Wiley and Sons, Inc, Canada.

Usaha sampingan inspiratif

Ada kesalahan di dalam gadget ini