Fermentabilitas Silase Sampah Organik Pada Domba Lokal

FERMENTABILITAS SILASE SAMPAH ORGANIK

DALAM RUMEN SEBAGAI PENGGANTI RUMPUT LAPANGAN

PADA DOMBA LOKAL JANTAN

(Organic Garbage Silase Fermentability on Rumen

In Replacement of Grass at Local Male Sheep)

E. Prayitno

Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang

ABSTRAK

Sampah organik pasar sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pakan alternatif hijauan bagi ternak ruminansia. Pemanfaatannya perlu dilakukan pengawetan agar lebih tahan lama yaitu dengan cara dibuat silase. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas silase sampah organik (SSO) untuk menggantikan rumput lapangan (RL) ditinjau dari konsentrasi VFA, NH3 dan protein total. Materi yang digunakan dalam penelitian ini berupa domba lokal jantan. Penelitian dilaksanakan menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah subtitusi pemberian hijauan yaitu sebagai berikut T1= 100% RL, T2= 50% RL + 50% SSO dan T3= 100% SSO. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konsentrasi VFA, amonia (NH3) dan protein total pada saat pengukuran 3 jam setelah pemberian pakan. Rata-rata konsentrasi VFA masing-masing perlakuan adalah T1= 83,63 mM, T2= 74,13 mM dan T3= 64,94 mM. Rata-rata konsentrasi NH3 T1, T2 dan T3 berturut-turut sebesar 8,02 mM, 8,76 mM dan 12,85 mM. Pada konsentrasi protein total T1, T2 dan T3 berturut-turut diperoleh hasil sebesar 66,48 mg/g, 84,73 mg/g dan 159,98 mg/g. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa silase sampah organik dapat digunakan sebagai bahan pakan hijauan untuk menggantikan rumput lapangan pada domba. Konsentrasi VFA dan NH3 yang dihasilkan mampu mendukung sintesis mikrobia dan menghasilkan protein total yang optimal.

Kata kunci : silase, asam lemak volatil, amonia, protein total,domba

ABSTRACT

Market organic garbage is very potential to be developed upon which forage alternative feed to ruminants livestock. Its exploiting requires to be done by pickling to be more durable that is made by silase. This research aim to study the quality of organic garbage silase (SSO) to replace grass (RL) evaluated from VFA concentration, NH3, and total protein. A used item in this research is form of local male sheep. Research executed to use RAK (Random Device of Group) by 3 treatment and 4 restating. Applied by treatment is substitution giving of greenly that is as follows T1 = 100% RL, T2 = 50% RL + 50% And T3 SSO = 100% SSO. Result of research show real influence (P < 0,05) to VFA concentration, ammonia (NH3) and total protein at the time of measurement 3 hour after giving of feed. Mean of concentration VFA each treatment is T1 = 83,63 mM, T2 = 74,13 T3 and mM = 64.94 mM. Mean of concentration NH3 T1, T2 And T3 successively equal to 8,02 mM, 8,76 mM and 12,85 mM. At concentration of total protein T1, T2 And T3 is successively obtained by equal result to 66.48 mg/g, 84,73 mg/g and 159,98 mg/g. Pursuant to result of this research can be concluded that organic garbage silase can be used as by forage feed materials to replace grass at sheep. VFA Concentration and yielded NH3 can support microbial synthesis and yield optimal total protein

Keyword : silase, volatile fatty acid, ammonia, total protein, sheep

PENDAHULUAN

Produktivitas ternak sangat tergantung terhadap ketersediaan pakan yang berkualitas. Hijauan sebagai pakan utama ternak seringkali bermasalah menyangkut ketersediaan dan kualitasnya yang rendah. Salah satu solusi mengatasi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan pakan ternak. Sampah organik khususnya sampah sayuran memiliki potensi untuk dijadikan pakan ternak ruminansia. Menurut Irawati (1999), sampah organik mengandung 12,94% bahan kering (BK); 17,30% protein kasar (PK); 18,70% serat kasar (SK); 2,20% lemak kasar (LK); 41,45% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN); 20,35% abu dan 52,20% ”total digestible nutrients” (TDN). Namun demikian sampah organik memiliki kelemahan yaitu kadar air dan kontaminasi bakteri yang tinggi sehingga mudah rusak. Pembuatan silase merupakan salah satu alternatif pengawetan sampah organik agar mempunyai daya simpan yang lebih lama.

Lactobacillus bulgaricus merupakan salah satu bakteri penghasil asam laktat yang dapat digunakan sebagai starter dalam pembuatan silase. Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri gram positif, dan sering membentuk pasangan rantai dari sel-selnya (Buckle et al., 1985). Rahman et al.,(1992) menyatakan bahwa Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri berbentuk batang, tumbuh pada suhu 15-450C, tidak tahan garam, merupakan bakteri asam laktat homofermentatif terutama mengubah glukosa menjadi asam laktat.

Proses pembuatan silase dapat dipercepat dengan penambahan bahan aditif. Karbohidrat mudah dicerna (RAC= ”Readily Available Carbohydrate”) perlu ditambahkan dalam pembuatan silase guna menambah energi bakteri asam laktat (McDonald, 1981). Dedak merupakan salah satu bahan aditif yang kaya akan karbohidrat mudah dicerna. Penambahan dedak pada pembuatan silase mampu mempercepat proses pembuatan silase. Harold dan Darrel (1972) menjelaskan bahwa penambahan bahan aditif pada pembuatan silase mampu memudahkan terbentuknya suasana asam dengan derajat keasaman yang optimum.

Hasil akhir fermentasi bahan organik pakan dalam rumen adalah asam lemak volatil atau volatile fatty acid (VFA) terutama asetat, propionat dan butirat (Tillman et al., 1991). Menurut Arora (1995) VFA merupakan sumber energi utama pada ternak ruminansia. Asam lemak volatil juga berperan sebagai sumber kerangka karbon bagi pembentukan protein mikrobia terutama VFA rantai cabang antara lain isobutirat, isovalerat dan 2-metil butirat (Sutardi et al., 1983). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi VFA antara lain adalah jenis pakan, gerak laju pakan yang meninggalkan rumen, frekuensi pemberian pakan, bentuk fisik pakan dan perbandingan antara konsentrat dan pakan kasar. Peningkatan palatabilitas dan kecernaan ransum dapat mempengaruhi produksi VFA, semakin tinggi palatabilitas ransum maka kecernaannya juga semakin tinggi yang diikuti peningkatan produksi VFA (Muhammad, 2000). Menurut Sutardi (1994), konsentrasi VFA total 80-160 mM mampu mensintesis protein mikrobia yang maksimal. Forbes dan Frace (1996) menambahkan bahwa konsentrasi VFA total terendah 30 mM dan tertinggi 200 mM tetapi umumnya antara 70-130 mM.

Protein yang dikonsumsi ruminansia akan mengalami 2 kemungkinan, yaitu lolos degradasi mikrobia rumen atau didegradasi oleh mikrobia rumen (Orskov, 1982). Protein yang tahan degradasi rumen akan dibawa ke dalam saluran pencernaan selanjutnya, yaitu abomasum dan usus halus. Protein yang tak tahan degradasi rumen akan dirombak menjadi amonia (Van Soest, 1982). Amonia yang dibebaskan dalam rumen sebagian besar dimanfaatkan mikrobia rumen untuk mensintesis protein tubuhnya (Arora, 1995). Sebagian besar (82%) mikrobia rumen menggunakan amonia, hanya sebagian kecil yang dapat menggunakan asam amino. Sintesis protein mikrobia rumen akan maksimal bila didukung konsentrasi amonia 4-12 Mm (Sutardi, 1994). Mikrobia berperan penting karena secara kuantitatif protein mikrobia menempati bagian terbesar dari seluruh protein yang ada di dalam rumen (Soewardi, 1974). Protein mikrobia rumen memberikan sumbangan sekitar 1/3-2/3 dari kebutuhan protein ternak ruminansia. Dinyatakan lebih lanjut bahwa protein total merupakan gabungan antara protein yang lolos dari degradasi rumen dan protein mikrobia, protein ini dijadikan bahan untuk sintesis protein induk semang.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kualitas silase sampah organik (SSO) sebagai pengganti rumput lapangan (RL) ditinjau dari konsentrasi asam lemak volatil (VFA), amonia (NH3) dan protein total. Hipotesis penelitian ini adalah subtitusi rumput lapangan dengan 100% silase sampah organik mampu menghasilkan VFA, NH3 untuk mendukung pertumbuhan mikrobia rumen sehingga menghasilkan protein total yang optimal bagi domba lokal jantan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi tentang penanganan dan pemanfaatan sampah organik sebagai bahan pakan alternatif pengganti rumput dalam ransum ruminansia.

MATERI DAN METODE

Materi

Penelitian menggunakan 12 ekor domba lokal jantan berumur kurang lebih satu tahun yang berasal dari peternak di sekitar TPA Jatibarang Semarang dengan rata-rata bobot badan 17,93,19 kg. Setiap domba dikandangkan dalam kandang individu, Ransum penelitian terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan imbangan 50:50. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah silo, timbangan gantung, timbangan pakan dan timbangan analitik merk dan selang plastik berdiameter 1 cm yang dilengkapi dengan pompa vakum, elenmeyer, termos es dan peralatan laboratorium untuk menganalisis konsentrasi asam lemak volatil, amonia dan protein total.

Metode

Penelitian dilakukan dalam 3 tahap, yaitu: 1). Tahap persiapan, 2). Tahap pelaksanaan dan 3). Analisis data.

Tahap Persiapan

Tahap persiapan dilakukan selama 4 minggu untuk mempersiapkan materi dan bahan penelitian yang meliputi pengadaan domba penelitian, pembuatan kandang domba, desinfeksi, menyiapkan peralatan kandang, survey tempat pengambilan sampah organik pasar, pengadaan bahan pakan dan pembuatan SSO serta penyusunan ransum penelitian.

Tahap Pelaksanaan

Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Tiga perlakuan yang diterapkan adalah level subtitusi hijauan dengan sebagai berikut:

T1 : Konsentrat + 100% rumput lapangan.

T2 : Konsentrat + 50% rumput lapangan + 50 % silase sampah organik.

T3 : Konsentrat + 100% silase sampah organik.

Tahap pelaksanaan dimulai dengan tahap pendahuluan sebelum tahap pengambilan data penelitian dilaksanakan. Tahap pendahuluan dilaksanakan selama 2 minggu dengan tujuan untuk membiasakan ternak mengkonsumsi pakan sesuai dengan perlakuan yang diterapkan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pendahuluan adalah pemberian pakan pada domba sesuai dengan perlakuan. Pada tahap ini juga dilakukan pengacakan ternak disesuaikan dengan perlakuan pakan yang diberikan dan penempatan ternak dalam kandang, yang sebelumnya telah dilakukan pemotongan bulu dan pemberian obat cacing Pada akhir tahap pendahuluan dilakukan penimbangan domba untuk mengetahui bobot badan awal.

Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore, konsentrat diberikan terlebih dahulu dan hijauan diberikan 2 jam setelah konsentrat selama tahap pendahuluan. Air minum diberikan secara ad libitum. Perlakuan tersebut dilanjutkan hingga ke tahap perlakuan yaitu selama 4 minggu. Tahap pengambilan data dilaksanakan pada minggu terakhir tahap perlakuan. Pengambilan cairan rumen dilakukan 3 jam setelah pemberian pakan menggunakan pompa vakum yang dilengkapi selang untuk dimasukkan kedalam rumen melalui mulut domba. Cairan rumen yang diambil kemudian disaring dan dimasukkan kedalam botol diukur pH-nya kemudian disimpan ke dalam termos es dan dilakukan analisis konsentrasi VFA, NH3 dan protein total.

Analisis Data

Data penelitian yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis peragam (”Analysis of Covariance”), jika perhitungan secara statistik menunjukkan pengaruh yang nyata (”significant”) maka dilakukan uji lanjut dengan Uji Wilayah Ganda Duncan (Srigandono,1987). Model matematik yang digunakan berdasarkan rancangan acak kelompok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

HASIL DAN PEMBAHASAN

Fermentasi secara in vivo ransum perlakuan menghasilkan konsentrasi VFA, NH3 dan protein total disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Konsentrasi VFA, NH3 dan Protein Total

Parameter

Perlakuan

T1

T2

T3

VFA (mM)

83,63a

74,13ab

64,94b

NH3 (mM)

8,02 a

9,89 ab

12,85 b

Protein Total (mg/g)

66,47 a

84,72 a

159,98 b

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

Konsentrasi VFA

Pada Tabel. 1 diketahui bahwa substitusi rumput lapangan dengan silase sampah organik (SSO) pada level yang berbeda memberikan perbedaan nyata (p<0,05) terhadap konsentrasi VFA total. Perbedaan yang nyata akibat perlakuan tersebut diduga disebabkan adanya perbedaan kecepatan pembentukan VFA di dalam rumen antara masing masing perlakuan. Pada ransum T1, T2 dan T3 mengandung BETN berturut-turut sebesar 44,24%; 48,15% dan 52,06%. Kandungan NDF ransum T1,T2 dan T3 berturut-turut sebesar 49,08%, 46,89% dan 44,70%. Proporsi BETN yang besar dan kandungan NDF yang rendah pada T3 menyebabkan pembentukan VFA pada T3 diduga lebih cepat dibanding T1 maupun T2 sehingga penyerapan VFA pada T3 lebih cepat dibanding ransum lainnya.

Asam lemak volatil yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber energi dan kerangka karbon bagi pembentukan protein mikrobia. Perlakuan T3 memiliki konsentrasi VFA lebih rendah dibanding perlakuan lainnya, hal ini disebabkan VFA yang dimanfaatkan oleh mikrobia lebih besar oleh karena itu konsentrasi VFA yang terukur jauh lebih rendah. Kondisi ini ditunjukkan dengan produksi protein total pada T3 paling tinggi dibanding T2 dan T1 yaitu (159,98>84,73>66,48 mg/g). Hal ini sesuai dengan pendapat Preston dan Leng (1987) yang menyatakan bahwa konsentrasi VFA dalam rumen berbanding terbalik dengan sintesis protein mikrobia, artinya semakin tinggi sintesis protein mikrobia semakin banyak VFA yang digunakan sehingga konsentrasinya di dalam rumen akan menurun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kuantitatif produksi VFA total dari perlakuan T1 dan T2 yaitu 83,63 mM dan 74,13 mM termasuk dalam kisaran optimal untuk mendukung sintesis protein mikrobia. Hal ini sesuai dengan pendapat Forbes dan France (1996) yang menyatakan konsentrasi VFA total normal adalah antara 70 dan 130 mM. Pada T3 menunjukkan bahwa produksi VFA total sedikit di bawah kisaran normal. Rendahnya VFA pada T3 selain disebabkan karena digunakan dalam sintesis protein mikrobia juga disebabkan oleh tingkat absorbsi yang tinggi oleh dinding rumen.

Ransum T3 menggunakan sumber serat berupa silase sampah organik yang mempunyai pH lebih rendah karena mengandung asam laktat. Rendahnya pH tersebut diduga meningkatkan penyerapan VFA oleh dinding rumen sehingga menyebabkan konsentrasi VFA pada ransum T3 lebih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Arora (1995) yang menerangkan bahwa pada pH rumen yang rendah terjadi peningkatan penyerapan VFA oleh dinding rumen yang bertujuan untuk mempertahankan pH rumen.

Konsentrasi Amonia (NH3 )

Produksi amonia rumen secara in vivo hasil penelitian disajikan pada Tabel 1. Hasil analisis ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata (p<0,05) antara substitusi rumput lapangan dengan SSO terhadap konsentrasi amonia (NH3). Konsentrasi NH3 masing-masing ransum T1, T2, T3 berturut-turut sebesar 8,02 mM, 8,76 mM dan 12,85 mM.

Amonia merupakan produk akhir degradasi protein kasar dalam pakan dan deaminasi asam amino oleh mikrobia rumen. Hasil penelitian konsentrasi amonia rumen menunjukkan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. Hal ini disebabkan kandungan protein kasar ransum perlakuan berbeda yaitu T1=13,56%, T2=14,47% dan T3=14,96%. Tingkat kelarutan protein kasar ransum perlakuan juga berpengaruh terhadap kemampuan mikrobia rumen untuk mendegradasi nitrogen dari protein yang ada. Hal tersebut menggambarkan bahwa proses fermentasi protein pakan yang berasal dari ketiga ransum perlakuan didegradasi dalam jumlah yang berbeda.

Konsentrasi NH3 ransum T3 lebih tinggi dibanding ransum lain, hal ini sangat mungkin disebabkan sumbangan protein kasar yang berasal dari silase sampah organik lebih tinggi dibanding rumput lapangan yaitu sebesar (11,65% vs 9,66%). Proses ensilase diduga menyebabkan protein SSO lebih mudah didegradasi oleh mikrobia rumen sehingga N-NH3nya lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1978) yang menyatakan bahwa produksi amonia dipengaruhi oleh kelarutan bahan pakan, jumlah protein dalam pakan dan sumber nitrogen dalam pakan. Protein dalam pakan dihidrolisis oleh mikrobia rumen menjadi peptida, asam amino dan NH3. Mikrobia rumen sebagian besar tidak dapat menggunakan asam amino secara langsung, sehingga asam amino yang ada dirombak menjadi amonia. Semakin mudah protein pakan didegradasi oleh mikrobia rumen maka semakin tinggi pula produksi amonia yang dihasilkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kuantitatif produksi amonia silase sampah organik cukup untuk mendukung biosintesis protein mikrobia rumen, yaitu berkisar 8,04-12,85 mM. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1994) yang menyatakan biosintesis protein mikrobia rumen mencapai maksimal pada konsentrasi amonia 4-12 mM. Penelititan lain (in vivo) yang dilakukan oleh Mehrez et al. (1977) bahwa pada ternak domba memperlihatkan konsentrasi amonia yang lebih tinggi diperlukan untuk memaksimumkan laju fermentasi, yaitu sebesar 23,5 mg% atau setara dengan 16,78 mM.

Protein Total

Protein total cairan rumen secara in vivo terdapat pada Tabel 1. hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan aras substitusi rumput lapangan dengan silase sampah organik (SSO) memberikan perbedaan nyata (p<0,05) terhadap produksi protein total. Produksi protein total masing-masing perlakuan T1, T2 dan T3 berturut-turut sebesar 66,47 mg/g, 84,72 mg/g dan 159,98 mg/g.

Protein total merupakan gabungan antara protein yang lolos dari degradasi rumen dan protein mikrobia, protein ini dijadikan sumber sintesis protein bagi induk semang (Sutardi, 1978). Protein mikrobia tersebut disintesis dari amonia dan rantai karbon yang berasal dari VFA total rumen (Sutardi, 1978; Arora, 1995; Tillman et al., 1991). Sintesis protein mikrobia tergantung kecepatan pemecahan nitrogen pakan dan kebutuhan asam amino oleh mikrobia rumen (Arora, 1995).

Hasil penelitian produksi protein total rumen menunjukkan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. Protein mikrobia rata-rata yang disintesis oleh mikrobia rumen secara berturut pada T1,T2 dan T3 adalah 81,35; 82,02; 83,00 mg/g. Perhitungan protein mikrobia tersebut berasal dari asumsi 1 kg BO tercerna menghasilkan 30 gN. Pada T1 didapat produksi protein mikrobia terendah. Proporsi protein mikrobia yang rendah pada T1 menyebabkan jumlah protein total juga rendah yaitu sebesar 66,48 mg/g. Hal ini mungkin disebabkan bahan organik (karbohirat, protein, lemak dan serat kasar) yang terkandung dalam rumput lapangan pada T1 dan T2 memiliki tingkat degradasi yang lebih rendah dibanding SSO pada T3. Rata-rata kecernaan bahan organik pada T1, T2, T3 berturut-turut sebesar 78,88%, 79,53%, 80,48%. Tingkat kecernaan bahan organik yang semakin tinggi akan menyebabkan mikrobia rumen semakin optimal dalam mengkonversikan bahan organik tersebut menjadi protein mikrobia. Hal ini sesuai dengan pendapat Arora (1995) bahwa sintesis protein mikrobia tergantung pada kecepatan pemecahan nitrogen makanan, kecepatan absorbsi amonia dan asam-asam amino, kecepatan alir bahan keluar dari rumen, kebutuhan mikrobia akan asam amino dan jenis fermentasi berdasarkan jenis makanan. McDonald et al. (1978) menjelaskan bahwa mikrobia mampu mengkonversikan 1 kg BO tercerna menghasilkan 30g N yang terhitung sebagai protein mikrobia.

Pada ransum T3 yang ditunjukkan pada Ilustrasi 7. memperlihatkan produksi protein total tertinggi dibanding ransum T2, T1 (159,98 >84,73>66,48 mg/g). Protein total yang besar pada T3 selain berasal dari sintesis protein mikrobia diduga sebagian besar berasal dari sumbangan protein yang lolos degradasi rumen (”by pass protein”) yaitu sebesar 76,98 mg/g dan sisanya berasal sintesis mikrobia rumen yaitu 83,00 mg/g. Hal ini sangat dimungkinkan bahwa sebagian besar proporsi protein yang terkandung dalam SSO berupa protein mikrobia yang terbentuk selama fermentasi pada saat proses ensilase berlangsung. Hal ini sesuai dengan pendapat Foley et al. (1973) yang menyatakan bahwa pada 3 sampai 5 hari pertama proses ensilase berlangsung bakteri pembentuk asam laktat yang semula dalam jumlah sedikit akan berkembang biak mencapai ratusan juta bakteri per gram hijauan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Silase sampah organik dapat digunakan sebagai bahan pakan hijauan untuk menggantikan rumput lapangan pada domba. Konsentrasi VFA dan NH3 yang dihasilkan mampu mendukung sintesis mikrobia dan menghasilkan protein total yang optimal. Penggantian rumput lapangan oleh silase sampah organik dalam penyusunan ransum dapat dilakukan hingga 100%. Penelitian penggunaan SSO sebaiknya dilanjutkan dengan menggunakan ternak ruminansia lain (selain domba) untuk mengetahui tingkat palatabilitas dan pemanfaatannya sebagai pengganti rumput dalam ransum ruminansia.

DAFTAR PUSTAKA

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Cetakan kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh R. Murwani).

Anggorodi, H. R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan keempat. PT. Gramedia, Jakarta.

Blakely, J. dan D. H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).

Buckle, K.A., R.A. Edward, G.H. Fleet dan M. Wooton. 1985. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press, Jakarta. (Diterjemahkan oleh H. Purnomo dan Adiono).

Bondi, A. A. 1987. Animal Nutrition. John Wiley and Sons, Chichester.

Cullison. A. E. 1979. Feeds and Feeding. 2nd Ed. Reston Publishing Co. Inc. Reston, Virginia.

Ensminger, M. E. 1992. Animal Science. 6th Ed. The Interstate and Publisher, Inc. Danville, Illinois.

Foley, R.C., D.L. Bath, F.N. Dickinson., and H.A. Tucker. 1973. Dairy Cattle Principles, Practices, Problem and Profits. Lea and Febiger, Philadelphia.

Forbes, J. M and J. France. 1996. Quantitative Aspect of Ruminant Digestion and Metabolism. C. A. B. International, Wallingford.

Harold, D.H. and S.M. Darrel. 1972. Crop Production 2nd Ed. Macmilan Publising Co., Inc., New York.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Cetakan keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Irawati, D. A. 1999. Kinerja Sapi Peranakan Ongole yang Digembalakan di Tempat Pembuangan Akhir Mojo Songo Surakarta. Tesis Magister Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kearl, L. C. 1982. Nutrient Requirement of Ruminant in Developing Countries. International Feedstuff Institute. Agriculture Experimentation Utah State University, Logan.

Kusnoputranto, H. 1995. Toksikologi Lingkungan. Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Pusat Penelititan Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia, Jakarta.

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-3. PT. Pembangunan, Jakarta.

McDonald, P. 1981. The Biochemistry of Silage. John Wiley and Sons Ltd., London.

McDonald, P., R. A. Edwards and J. F. D. Greenhalfh. 1978. Animal Nutrition. 2nd Ed. Logman, London.

McIlroy, R. J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradya Paramita, Jakarta (Diterjemahkan oleh TIM IPB).

Mehrez, A.Z., E.R. Orskov and I. McDonald. 1977. Rate of Rumen Fermentation in Relation to Ammonia Concentration. Br. J. Nutr. 38:437.C

Muhammad, Z. 2000. Fermentasi dan Peranan Mikrobia bagi Pertambahan Bobot Badan Sapi Friestian Holstein. J. Peternakan dan Lingkungan. 6: 60-66.

Murtidjo, B. A. 1993. Memelihara Domba. Penerbit Kanisius, Jakarta

Orskov, E. R. 1992. Protein Nutrition in Ruminant. 2nd Ed. Academic Press, Harcout Brace Jovanovich Publisher, London.

Orskov, E. R. 1988. Feed Science. Elsevier Science Publisher B. V, New York.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. Edisi Pertama. BPFE, Yogyakarta.

Prihadi, S. 1996. Tata Laksana dan Produksi Ternak Perah. Fakultas Pertanian Wangsamanggala, Yogyakarta.

Preston, T.R. and R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production Systems With Available Resources In The Tropics and Sub-Tropics. Penabul Books Armidale.

Rahman, A. S. Fardiaz, W.P. Rahayu; Suliantri dan CC. Nurwitri. 1992. Teknologi Fermentasi Susu. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Ranjhan, S. K. 1980. Animal Nutrition in Tropics. 2nd Ed. Vikas Publishing House PVT Ltd., New Delhi.

Waluyo, M. E. 2005. Persampahan di Kota Semarang, Suatu Sorotan dan Kritik terhadap Pengelolaannya. Dalam : Seminar Manajemen Pengelolaan Sampah yang Efektif dan Efisien. IAIN Walisongo Semarang, Semarang.

Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sosroamidjoyo, S. dan Soeradji. 1984. Peternakan Umum. CV Yasaguna, Jakarta.

Srigandono B. 1987. Racangan Percobaan. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro, Semarang (Tidak diterbitkan).

Sumoprastowo, R. M. 1987. Beternak Domba Pedaging dan Wol. Penerbit Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Soelistyono. H. S. 1976. Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang (Tidak diterbitkan).

Soewardi, B. 1974. Gizi Ruminansia. Volume I. Departemen Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sutardi, T. 1978. Ikhtisar Ruminologi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sutardi, T., N. A. Sigit dan T. Toharmat. 1983. Standardisasi Mutu Protein Bahan Makanan Ruminansia Berdasarkan Parameter Metabolismenya oleh Mikrobia Rumen. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan).

Sutardi, T. 1994. Peningkatan Produk Ternak Ruminansia Melalui Amoniasi Pakan Serat Bermutu Rendah, Defaunasi dan Suplementasi Sumber Protein Tahan Degradasi dalam Rumen. Laporan Penelitian Hibah Bersaing I Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan).

Sutardi, T. 2001. Revitalisasi Peternakan Sapi Perah Melalui Penggunaan Ransum Berbasis Limbah Perkebunan dan Suplemen Mineral Organik. Laporan Akhir RUT VIII.1 Tahun Anggaran 2001. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.

Sutrisno, C. I. 1981. Pencernaan pada Ruminania. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan).

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Kelima. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Van Soest, P. J. 1982. Nutritional Ecology of Ruminant. The Cellulolytic Fermentation and The Chemistry of Farages and Plant Fibers. Cornell University, Corvalis

0 Responses

FERMENTABILITAS SILASE SAMPAH ORGANIK

DALAM RUMEN SEBAGAI PENGGANTI RUMPUT LAPANGAN

PADA DOMBA LOKAL JANTAN

(Organic Garbage Silase Fermentability on Rumen

In Replacement of Grass at Local Male Sheep)

E. Prayitno

Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang

ABSTRAK

Sampah organik pasar sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pakan alternatif hijauan bagi ternak ruminansia. Pemanfaatannya perlu dilakukan pengawetan agar lebih tahan lama yaitu dengan cara dibuat silase. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas silase sampah organik (SSO) untuk menggantikan rumput lapangan (RL) ditinjau dari konsentrasi VFA, NH3 dan protein total. Materi yang digunakan dalam penelitian ini berupa domba lokal jantan. Penelitian dilaksanakan menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah subtitusi pemberian hijauan yaitu sebagai berikut T1= 100% RL, T2= 50% RL + 50% SSO dan T3= 100% SSO. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konsentrasi VFA, amonia (NH3) dan protein total pada saat pengukuran 3 jam setelah pemberian pakan. Rata-rata konsentrasi VFA masing-masing perlakuan adalah T1= 83,63 mM, T2= 74,13 mM dan T3= 64,94 mM. Rata-rata konsentrasi NH3 T1, T2 dan T3 berturut-turut sebesar 8,02 mM, 8,76 mM dan 12,85 mM. Pada konsentrasi protein total T1, T2 dan T3 berturut-turut diperoleh hasil sebesar 66,48 mg/g, 84,73 mg/g dan 159,98 mg/g. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa silase sampah organik dapat digunakan sebagai bahan pakan hijauan untuk menggantikan rumput lapangan pada domba. Konsentrasi VFA dan NH3 yang dihasilkan mampu mendukung sintesis mikrobia dan menghasilkan protein total yang optimal.

Kata kunci : silase, asam lemak volatil, amonia, protein total,domba

ABSTRACT

Market organic garbage is very potential to be developed upon which forage alternative feed to ruminants livestock. Its exploiting requires to be done by pickling to be more durable that is made by silase. This research aim to study the quality of organic garbage silase (SSO) to replace grass (RL) evaluated from VFA concentration, NH3, and total protein. A used item in this research is form of local male sheep. Research executed to use RAK (Random Device of Group) by 3 treatment and 4 restating. Applied by treatment is substitution giving of greenly that is as follows T1 = 100% RL, T2 = 50% RL + 50% And T3 SSO = 100% SSO. Result of research show real influence (P < 0,05) to VFA concentration, ammonia (NH3) and total protein at the time of measurement 3 hour after giving of feed. Mean of concentration VFA each treatment is T1 = 83,63 mM, T2 = 74,13 T3 and mM = 64.94 mM. Mean of concentration NH3 T1, T2 And T3 successively equal to 8,02 mM, 8,76 mM and 12,85 mM. At concentration of total protein T1, T2 And T3 is successively obtained by equal result to 66.48 mg/g, 84,73 mg/g and 159,98 mg/g. Pursuant to result of this research can be concluded that organic garbage silase can be used as by forage feed materials to replace grass at sheep. VFA Concentration and yielded NH3 can support microbial synthesis and yield optimal total protein

Keyword : silase, volatile fatty acid, ammonia, total protein, sheep

PENDAHULUAN

Produktivitas ternak sangat tergantung terhadap ketersediaan pakan yang berkualitas. Hijauan sebagai pakan utama ternak seringkali bermasalah menyangkut ketersediaan dan kualitasnya yang rendah. Salah satu solusi mengatasi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan pakan ternak. Sampah organik khususnya sampah sayuran memiliki potensi untuk dijadikan pakan ternak ruminansia. Menurut Irawati (1999), sampah organik mengandung 12,94% bahan kering (BK); 17,30% protein kasar (PK); 18,70% serat kasar (SK); 2,20% lemak kasar (LK); 41,45% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN); 20,35% abu dan 52,20% ”total digestible nutrients” (TDN). Namun demikian sampah organik memiliki kelemahan yaitu kadar air dan kontaminasi bakteri yang tinggi sehingga mudah rusak. Pembuatan silase merupakan salah satu alternatif pengawetan sampah organik agar mempunyai daya simpan yang lebih lama.

Lactobacillus bulgaricus merupakan salah satu bakteri penghasil asam laktat yang dapat digunakan sebagai starter dalam pembuatan silase. Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri gram positif, dan sering membentuk pasangan rantai dari sel-selnya (Buckle et al., 1985). Rahman et al.,(1992) menyatakan bahwa Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri berbentuk batang, tumbuh pada suhu 15-450C, tidak tahan garam, merupakan bakteri asam laktat homofermentatif terutama mengubah glukosa menjadi asam laktat.

Proses pembuatan silase dapat dipercepat dengan penambahan bahan aditif. Karbohidrat mudah dicerna (RAC= ”Readily Available Carbohydrate”) perlu ditambahkan dalam pembuatan silase guna menambah energi bakteri asam laktat (McDonald, 1981). Dedak merupakan salah satu bahan aditif yang kaya akan karbohidrat mudah dicerna. Penambahan dedak pada pembuatan silase mampu mempercepat proses pembuatan silase. Harold dan Darrel (1972) menjelaskan bahwa penambahan bahan aditif pada pembuatan silase mampu memudahkan terbentuknya suasana asam dengan derajat keasaman yang optimum.

Hasil akhir fermentasi bahan organik pakan dalam rumen adalah asam lemak volatil atau volatile fatty acid (VFA) terutama asetat, propionat dan butirat (Tillman et al., 1991). Menurut Arora (1995) VFA merupakan sumber energi utama pada ternak ruminansia. Asam lemak volatil juga berperan sebagai sumber kerangka karbon bagi pembentukan protein mikrobia terutama VFA rantai cabang antara lain isobutirat, isovalerat dan 2-metil butirat (Sutardi et al., 1983). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi VFA antara lain adalah jenis pakan, gerak laju pakan yang meninggalkan rumen, frekuensi pemberian pakan, bentuk fisik pakan dan perbandingan antara konsentrat dan pakan kasar. Peningkatan palatabilitas dan kecernaan ransum dapat mempengaruhi produksi VFA, semakin tinggi palatabilitas ransum maka kecernaannya juga semakin tinggi yang diikuti peningkatan produksi VFA (Muhammad, 2000). Menurut Sutardi (1994), konsentrasi VFA total 80-160 mM mampu mensintesis protein mikrobia yang maksimal. Forbes dan Frace (1996) menambahkan bahwa konsentrasi VFA total terendah 30 mM dan tertinggi 200 mM tetapi umumnya antara 70-130 mM.

Protein yang dikonsumsi ruminansia akan mengalami 2 kemungkinan, yaitu lolos degradasi mikrobia rumen atau didegradasi oleh mikrobia rumen (Orskov, 1982). Protein yang tahan degradasi rumen akan dibawa ke dalam saluran pencernaan selanjutnya, yaitu abomasum dan usus halus. Protein yang tak tahan degradasi rumen akan dirombak menjadi amonia (Van Soest, 1982). Amonia yang dibebaskan dalam rumen sebagian besar dimanfaatkan mikrobia rumen untuk mensintesis protein tubuhnya (Arora, 1995). Sebagian besar (82%) mikrobia rumen menggunakan amonia, hanya sebagian kecil yang dapat menggunakan asam amino. Sintesis protein mikrobia rumen akan maksimal bila didukung konsentrasi amonia 4-12 Mm (Sutardi, 1994). Mikrobia berperan penting karena secara kuantitatif protein mikrobia menempati bagian terbesar dari seluruh protein yang ada di dalam rumen (Soewardi, 1974). Protein mikrobia rumen memberikan sumbangan sekitar 1/3-2/3 dari kebutuhan protein ternak ruminansia. Dinyatakan lebih lanjut bahwa protein total merupakan gabungan antara protein yang lolos dari degradasi rumen dan protein mikrobia, protein ini dijadikan bahan untuk sintesis protein induk semang.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kualitas silase sampah organik (SSO) sebagai pengganti rumput lapangan (RL) ditinjau dari konsentrasi asam lemak volatil (VFA), amonia (NH3) dan protein total. Hipotesis penelitian ini adalah subtitusi rumput lapangan dengan 100% silase sampah organik mampu menghasilkan VFA, NH3 untuk mendukung pertumbuhan mikrobia rumen sehingga menghasilkan protein total yang optimal bagi domba lokal jantan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi tentang penanganan dan pemanfaatan sampah organik sebagai bahan pakan alternatif pengganti rumput dalam ransum ruminansia.

MATERI DAN METODE

Materi

Penelitian menggunakan 12 ekor domba lokal jantan berumur kurang lebih satu tahun yang berasal dari peternak di sekitar TPA Jatibarang Semarang dengan rata-rata bobot badan 17,93,19 kg. Setiap domba dikandangkan dalam kandang individu, Ransum penelitian terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan imbangan 50:50. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah silo, timbangan gantung, timbangan pakan dan timbangan analitik merk dan selang plastik berdiameter 1 cm yang dilengkapi dengan pompa vakum, elenmeyer, termos es dan peralatan laboratorium untuk menganalisis konsentrasi asam lemak volatil, amonia dan protein total.

Metode

Penelitian dilakukan dalam 3 tahap, yaitu: 1). Tahap persiapan, 2). Tahap pelaksanaan dan 3). Analisis data.

Tahap Persiapan

Tahap persiapan dilakukan selama 4 minggu untuk mempersiapkan materi dan bahan penelitian yang meliputi pengadaan domba penelitian, pembuatan kandang domba, desinfeksi, menyiapkan peralatan kandang, survey tempat pengambilan sampah organik pasar, pengadaan bahan pakan dan pembuatan SSO serta penyusunan ransum penelitian.

Tahap Pelaksanaan

Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Tiga perlakuan yang diterapkan adalah level subtitusi hijauan dengan sebagai berikut:

T1 : Konsentrat + 100% rumput lapangan.

T2 : Konsentrat + 50% rumput lapangan + 50 % silase sampah organik.

T3 : Konsentrat + 100% silase sampah organik.

Tahap pelaksanaan dimulai dengan tahap pendahuluan sebelum tahap pengambilan data penelitian dilaksanakan. Tahap pendahuluan dilaksanakan selama 2 minggu dengan tujuan untuk membiasakan ternak mengkonsumsi pakan sesuai dengan perlakuan yang diterapkan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pendahuluan adalah pemberian pakan pada domba sesuai dengan perlakuan. Pada tahap ini juga dilakukan pengacakan ternak disesuaikan dengan perlakuan pakan yang diberikan dan penempatan ternak dalam kandang, yang sebelumnya telah dilakukan pemotongan bulu dan pemberian obat cacing Pada akhir tahap pendahuluan dilakukan penimbangan domba untuk mengetahui bobot badan awal.

Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore, konsentrat diberikan terlebih dahulu dan hijauan diberikan 2 jam setelah konsentrat selama tahap pendahuluan. Air minum diberikan secara ad libitum. Perlakuan tersebut dilanjutkan hingga ke tahap perlakuan yaitu selama 4 minggu. Tahap pengambilan data dilaksanakan pada minggu terakhir tahap perlakuan. Pengambilan cairan rumen dilakukan 3 jam setelah pemberian pakan menggunakan pompa vakum yang dilengkapi selang untuk dimasukkan kedalam rumen melalui mulut domba. Cairan rumen yang diambil kemudian disaring dan dimasukkan kedalam botol diukur pH-nya kemudian disimpan ke dalam termos es dan dilakukan analisis konsentrasi VFA, NH3 dan protein total.

Analisis Data

Data penelitian yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis peragam (”Analysis of Covariance”), jika perhitungan secara statistik menunjukkan pengaruh yang nyata (”significant”) maka dilakukan uji lanjut dengan Uji Wilayah Ganda Duncan (Srigandono,1987). Model matematik yang digunakan berdasarkan rancangan acak kelompok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

HASIL DAN PEMBAHASAN

Fermentasi secara in vivo ransum perlakuan menghasilkan konsentrasi VFA, NH3 dan protein total disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Konsentrasi VFA, NH3 dan Protein Total

Parameter

Perlakuan

T1

T2

T3

VFA (mM)

83,63a

74,13ab

64,94b

NH3 (mM)

8,02 a

9,89 ab

12,85 b

Protein Total (mg/g)

66,47 a

84,72 a

159,98 b

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

Konsentrasi VFA

Pada Tabel. 1 diketahui bahwa substitusi rumput lapangan dengan silase sampah organik (SSO) pada level yang berbeda memberikan perbedaan nyata (p<0,05) terhadap konsentrasi VFA total. Perbedaan yang nyata akibat perlakuan tersebut diduga disebabkan adanya perbedaan kecepatan pembentukan VFA di dalam rumen antara masing masing perlakuan. Pada ransum T1, T2 dan T3 mengandung BETN berturut-turut sebesar 44,24%; 48,15% dan 52,06%. Kandungan NDF ransum T1,T2 dan T3 berturut-turut sebesar 49,08%, 46,89% dan 44,70%. Proporsi BETN yang besar dan kandungan NDF yang rendah pada T3 menyebabkan pembentukan VFA pada T3 diduga lebih cepat dibanding T1 maupun T2 sehingga penyerapan VFA pada T3 lebih cepat dibanding ransum lainnya.

Asam lemak volatil yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber energi dan kerangka karbon bagi pembentukan protein mikrobia. Perlakuan T3 memiliki konsentrasi VFA lebih rendah dibanding perlakuan lainnya, hal ini disebabkan VFA yang dimanfaatkan oleh mikrobia lebih besar oleh karena itu konsentrasi VFA yang terukur jauh lebih rendah. Kondisi ini ditunjukkan dengan produksi protein total pada T3 paling tinggi dibanding T2 dan T1 yaitu (159,98>84,73>66,48 mg/g). Hal ini sesuai dengan pendapat Preston dan Leng (1987) yang menyatakan bahwa konsentrasi VFA dalam rumen berbanding terbalik dengan sintesis protein mikrobia, artinya semakin tinggi sintesis protein mikrobia semakin banyak VFA yang digunakan sehingga konsentrasinya di dalam rumen akan menurun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kuantitatif produksi VFA total dari perlakuan T1 dan T2 yaitu 83,63 mM dan 74,13 mM termasuk dalam kisaran optimal untuk mendukung sintesis protein mikrobia. Hal ini sesuai dengan pendapat Forbes dan France (1996) yang menyatakan konsentrasi VFA total normal adalah antara 70 dan 130 mM. Pada T3 menunjukkan bahwa produksi VFA total sedikit di bawah kisaran normal. Rendahnya VFA pada T3 selain disebabkan karena digunakan dalam sintesis protein mikrobia juga disebabkan oleh tingkat absorbsi yang tinggi oleh dinding rumen.

Ransum T3 menggunakan sumber serat berupa silase sampah organik yang mempunyai pH lebih rendah karena mengandung asam laktat. Rendahnya pH tersebut diduga meningkatkan penyerapan VFA oleh dinding rumen sehingga menyebabkan konsentrasi VFA pada ransum T3 lebih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Arora (1995) yang menerangkan bahwa pada pH rumen yang rendah terjadi peningkatan penyerapan VFA oleh dinding rumen yang bertujuan untuk mempertahankan pH rumen.

Konsentrasi Amonia (NH3 )

Produksi amonia rumen secara in vivo hasil penelitian disajikan pada Tabel 1. Hasil analisis ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata (p<0,05) antara substitusi rumput lapangan dengan SSO terhadap konsentrasi amonia (NH3). Konsentrasi NH3 masing-masing ransum T1, T2, T3 berturut-turut sebesar 8,02 mM, 8,76 mM dan 12,85 mM.

Amonia merupakan produk akhir degradasi protein kasar dalam pakan dan deaminasi asam amino oleh mikrobia rumen. Hasil penelitian konsentrasi amonia rumen menunjukkan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. Hal ini disebabkan kandungan protein kasar ransum perlakuan berbeda yaitu T1=13,56%, T2=14,47% dan T3=14,96%. Tingkat kelarutan protein kasar ransum perlakuan juga berpengaruh terhadap kemampuan mikrobia rumen untuk mendegradasi nitrogen dari protein yang ada. Hal tersebut menggambarkan bahwa proses fermentasi protein pakan yang berasal dari ketiga ransum perlakuan didegradasi dalam jumlah yang berbeda.

Konsentrasi NH3 ransum T3 lebih tinggi dibanding ransum lain, hal ini sangat mungkin disebabkan sumbangan protein kasar yang berasal dari silase sampah organik lebih tinggi dibanding rumput lapangan yaitu sebesar (11,65% vs 9,66%). Proses ensilase diduga menyebabkan protein SSO lebih mudah didegradasi oleh mikrobia rumen sehingga N-NH3nya lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1978) yang menyatakan bahwa produksi amonia dipengaruhi oleh kelarutan bahan pakan, jumlah protein dalam pakan dan sumber nitrogen dalam pakan. Protein dalam pakan dihidrolisis oleh mikrobia rumen menjadi peptida, asam amino dan NH3. Mikrobia rumen sebagian besar tidak dapat menggunakan asam amino secara langsung, sehingga asam amino yang ada dirombak menjadi amonia. Semakin mudah protein pakan didegradasi oleh mikrobia rumen maka semakin tinggi pula produksi amonia yang dihasilkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kuantitatif produksi amonia silase sampah organik cukup untuk mendukung biosintesis protein mikrobia rumen, yaitu berkisar 8,04-12,85 mM. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1994) yang menyatakan biosintesis protein mikrobia rumen mencapai maksimal pada konsentrasi amonia 4-12 mM. Penelititan lain (in vivo) yang dilakukan oleh Mehrez et al. (1977) bahwa pada ternak domba memperlihatkan konsentrasi amonia yang lebih tinggi diperlukan untuk memaksimumkan laju fermentasi, yaitu sebesar 23,5 mg% atau setara dengan 16,78 mM.

Protein Total

Protein total cairan rumen secara in vivo terdapat pada Tabel 1. hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan aras substitusi rumput lapangan dengan silase sampah organik (SSO) memberikan perbedaan nyata (p<0,05) terhadap produksi protein total. Produksi protein total masing-masing perlakuan T1, T2 dan T3 berturut-turut sebesar 66,47 mg/g, 84,72 mg/g dan 159,98 mg/g.

Protein total merupakan gabungan antara protein yang lolos dari degradasi rumen dan protein mikrobia, protein ini dijadikan sumber sintesis protein bagi induk semang (Sutardi, 1978). Protein mikrobia tersebut disintesis dari amonia dan rantai karbon yang berasal dari VFA total rumen (Sutardi, 1978; Arora, 1995; Tillman et al., 1991). Sintesis protein mikrobia tergantung kecepatan pemecahan nitrogen pakan dan kebutuhan asam amino oleh mikrobia rumen (Arora, 1995).

Hasil penelitian produksi protein total rumen menunjukkan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. Protein mikrobia rata-rata yang disintesis oleh mikrobia rumen secara berturut pada T1,T2 dan T3 adalah 81,35; 82,02; 83,00 mg/g. Perhitungan protein mikrobia tersebut berasal dari asumsi 1 kg BO tercerna menghasilkan 30 gN. Pada T1 didapat produksi protein mikrobia terendah. Proporsi protein mikrobia yang rendah pada T1 menyebabkan jumlah protein total juga rendah yaitu sebesar 66,48 mg/g. Hal ini mungkin disebabkan bahan organik (karbohirat, protein, lemak dan serat kasar) yang terkandung dalam rumput lapangan pada T1 dan T2 memiliki tingkat degradasi yang lebih rendah dibanding SSO pada T3. Rata-rata kecernaan bahan organik pada T1, T2, T3 berturut-turut sebesar 78,88%, 79,53%, 80,48%. Tingkat kecernaan bahan organik yang semakin tinggi akan menyebabkan mikrobia rumen semakin optimal dalam mengkonversikan bahan organik tersebut menjadi protein mikrobia. Hal ini sesuai dengan pendapat Arora (1995) bahwa sintesis protein mikrobia tergantung pada kecepatan pemecahan nitrogen makanan, kecepatan absorbsi amonia dan asam-asam amino, kecepatan alir bahan keluar dari rumen, kebutuhan mikrobia akan asam amino dan jenis fermentasi berdasarkan jenis makanan. McDonald et al. (1978) menjelaskan bahwa mikrobia mampu mengkonversikan 1 kg BO tercerna menghasilkan 30g N yang terhitung sebagai protein mikrobia.

Pada ransum T3 yang ditunjukkan pada Ilustrasi 7. memperlihatkan produksi protein total tertinggi dibanding ransum T2, T1 (159,98 >84,73>66,48 mg/g). Protein total yang besar pada T3 selain berasal dari sintesis protein mikrobia diduga sebagian besar berasal dari sumbangan protein yang lolos degradasi rumen (”by pass protein”) yaitu sebesar 76,98 mg/g dan sisanya berasal sintesis mikrobia rumen yaitu 83,00 mg/g. Hal ini sangat dimungkinkan bahwa sebagian besar proporsi protein yang terkandung dalam SSO berupa protein mikrobia yang terbentuk selama fermentasi pada saat proses ensilase berlangsung. Hal ini sesuai dengan pendapat Foley et al. (1973) yang menyatakan bahwa pada 3 sampai 5 hari pertama proses ensilase berlangsung bakteri pembentuk asam laktat yang semula dalam jumlah sedikit akan berkembang biak mencapai ratusan juta bakteri per gram hijauan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Silase sampah organik dapat digunakan sebagai bahan pakan hijauan untuk menggantikan rumput lapangan pada domba. Konsentrasi VFA dan NH3 yang dihasilkan mampu mendukung sintesis mikrobia dan menghasilkan protein total yang optimal. Penggantian rumput lapangan oleh silase sampah organik dalam penyusunan ransum dapat dilakukan hingga 100%. Penelitian penggunaan SSO sebaiknya dilanjutkan dengan menggunakan ternak ruminansia lain (selain domba) untuk mengetahui tingkat palatabilitas dan pemanfaatannya sebagai pengganti rumput dalam ransum ruminansia.

DAFTAR PUSTAKA

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Cetakan kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh R. Murwani).

Anggorodi, H. R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan keempat. PT. Gramedia, Jakarta.

Blakely, J. dan D. H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).

Buckle, K.A., R.A. Edward, G.H. Fleet dan M. Wooton. 1985. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press, Jakarta. (Diterjemahkan oleh H. Purnomo dan Adiono).

Bondi, A. A. 1987. Animal Nutrition. John Wiley and Sons, Chichester.

Cullison. A. E. 1979. Feeds and Feeding. 2nd Ed. Reston Publishing Co. Inc. Reston, Virginia.

Ensminger, M. E. 1992. Animal Science. 6th Ed. The Interstate and Publisher, Inc. Danville, Illinois.

Foley, R.C., D.L. Bath, F.N. Dickinson., and H.A. Tucker. 1973. Dairy Cattle Principles, Practices, Problem and Profits. Lea and Febiger, Philadelphia.

Forbes, J. M and J. France. 1996. Quantitative Aspect of Ruminant Digestion and Metabolism. C. A. B. International, Wallingford.

Harold, D.H. and S.M. Darrel. 1972. Crop Production 2nd Ed. Macmilan Publising Co., Inc., New York.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Cetakan keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Irawati, D. A. 1999. Kinerja Sapi Peranakan Ongole yang Digembalakan di Tempat Pembuangan Akhir Mojo Songo Surakarta. Tesis Magister Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kearl, L. C. 1982. Nutrient Requirement of Ruminant in Developing Countries. International Feedstuff Institute. Agriculture Experimentation Utah State University, Logan.

Kusnoputranto, H. 1995. Toksikologi Lingkungan. Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Pusat Penelititan Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia, Jakarta.

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-3. PT. Pembangunan, Jakarta.

McDonald, P. 1981. The Biochemistry of Silage. John Wiley and Sons Ltd., London.

McDonald, P., R. A. Edwards and J. F. D. Greenhalfh. 1978. Animal Nutrition. 2nd Ed. Logman, London.

McIlroy, R. J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradya Paramita, Jakarta (Diterjemahkan oleh TIM IPB).

Mehrez, A.Z., E.R. Orskov and I. McDonald. 1977. Rate of Rumen Fermentation in Relation to Ammonia Concentration. Br. J. Nutr. 38:437.C

Muhammad, Z. 2000. Fermentasi dan Peranan Mikrobia bagi Pertambahan Bobot Badan Sapi Friestian Holstein. J. Peternakan dan Lingkungan. 6: 60-66.

Murtidjo, B. A. 1993. Memelihara Domba. Penerbit Kanisius, Jakarta

Orskov, E. R. 1992. Protein Nutrition in Ruminant. 2nd Ed. Academic Press, Harcout Brace Jovanovich Publisher, London.

Orskov, E. R. 1988. Feed Science. Elsevier Science Publisher B. V, New York.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. Edisi Pertama. BPFE, Yogyakarta.

Prihadi, S. 1996. Tata Laksana dan Produksi Ternak Perah. Fakultas Pertanian Wangsamanggala, Yogyakarta.

Preston, T.R. and R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production Systems With Available Resources In The Tropics and Sub-Tropics. Penabul Books Armidale.

Rahman, A. S. Fardiaz, W.P. Rahayu; Suliantri dan CC. Nurwitri. 1992. Teknologi Fermentasi Susu. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Ranjhan, S. K. 1980. Animal Nutrition in Tropics. 2nd Ed. Vikas Publishing House PVT Ltd., New Delhi.

Waluyo, M. E. 2005. Persampahan di Kota Semarang, Suatu Sorotan dan Kritik terhadap Pengelolaannya. Dalam : Seminar Manajemen Pengelolaan Sampah yang Efektif dan Efisien. IAIN Walisongo Semarang, Semarang.

Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sosroamidjoyo, S. dan Soeradji. 1984. Peternakan Umum. CV Yasaguna, Jakarta.

Srigandono B. 1987. Racangan Percobaan. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro, Semarang (Tidak diterbitkan).

Sumoprastowo, R. M. 1987. Beternak Domba Pedaging dan Wol. Penerbit Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Soelistyono. H. S. 1976. Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang (Tidak diterbitkan).

Soewardi, B. 1974. Gizi Ruminansia. Volume I. Departemen Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sutardi, T. 1978. Ikhtisar Ruminologi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sutardi, T., N. A. Sigit dan T. Toharmat. 1983. Standardisasi Mutu Protein Bahan Makanan Ruminansia Berdasarkan Parameter Metabolismenya oleh Mikrobia Rumen. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan).

Sutardi, T. 1994. Peningkatan Produk Ternak Ruminansia Melalui Amoniasi Pakan Serat Bermutu Rendah, Defaunasi dan Suplementasi Sumber Protein Tahan Degradasi dalam Rumen. Laporan Penelitian Hibah Bersaing I Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan).

Sutardi, T. 2001. Revitalisasi Peternakan Sapi Perah Melalui Penggunaan Ransum Berbasis Limbah Perkebunan dan Suplemen Mineral Organik. Laporan Akhir RUT VIII.1 Tahun Anggaran 2001. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.

Sutrisno, C. I. 1981. Pencernaan pada Ruminania. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan).

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Kelima. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Van Soest, P. J. 1982. Nutritional Ecology of Ruminant. The Cellulolytic Fermentation and The Chemistry of Farages and Plant Fibers. Cornell University, Corvalis

Usaha sampingan inspiratif

Ada kesalahan di dalam gadget ini